Suka dan Duka Onilne Class | Basil Shota Suhud (10) 8E

 

Suka dan Duka Onilne Class | Basil Shota Suhud (10) 8E

Sekolah Labschool menjadi impian saya semenjak kelas 6 sd. Saya memilih Labschool karena saya merasa sudah kenal dengan Labschool. Saya dulu pernah sekolah TK di Labschool. Metode pembelajarannya sangat bagus dan patut dicontoh oleh sekolah lain. Namun sayang banget, tahun ajaran pertama di Labs malah tidak bisa sekolah dikarenakan virus corona. Virus corona mengubah semuanya, bagaikan 2x = 360 derajat. X = 180 derajat. Sekolah luring (luar jaringan) digantikan oleh sekolah daring (dalam jaringan). Sekolah daring biasa disebut Online Class. Berikut suka duka saya mengenai Online Class.



Suka

Suka saya terhadap online class di Labschool adalah kita bisa menjadi lebih santai dalam sekolah. Kita bisa bangun jam 6.00 -7.00, beda lagi kalau Offline Class.

Duka

Duka saya terhadap online class di labschool adalah saya menjadi tidak produktif. Bayangkan saja, setiap hari bangun jam 7 kurang, itupun kalau dibangunkan orang rumah. Saya menjadi malas sholat subuh, bahkan hamper setiap hari saya sholat subuh diatas jam 8.00. Orang tua saya tidak memfasilitasiku dengan alarm, baik alarm dari hp maupun dari jam. Saya sebenarnya sangat ingin bangun pagi, mengawali hari dengan lebih produktif, sholat subuh sebelum matahari terbit, dan lebih rajin ibadah. Saya sangat iri dengan orang lain yang difasilitasi alarm.

Selain tidak bisa bangun pagi, saya juga kadang kurang focus saat online class. Rasanya bosan sekali. Saya tidak punya banyak teman, saya merasa belum cocok dengan orang lain. Saat kelas 7, saya sangat tidak bisa memperhatikan guru. Entah kenapa online class itu sangat membosankan dibanding offline. Bahkan saat kelas 7 semester 1 saya mendapatkan nilai ulangan harian IPA dengan angka “33”. Itu sangat mengagetkan. Bagaimana saya yang dulunya sangat suka IPA malah mempunyai nilai IPA yang sangat jelek. Oleh karena itu, mendapatkan nilai 75/pas KKM saja saya sudah senang



Saya mulai berubah. Saya ingin menjadi lebih giat dan ulet dalam belajar. Saya mulai lebih memperhatikan guru dan mencatat informasi dan poin-poin penting dalam pelajaran. Ngomong-ngomong tentang pelajaran, entah bagaimana saya mendadak suka pelajaran IPA dan MTK. Semenjak saya les di tempat bimbingan belajar, saya mulai mendapatkan motivasi belajar. “Belajar itu seru”, itu motivasi dan inspirasi saya.

Selain mendapatkan motivasi belajar dari les, saya juga mulai terinspirasi dari beberapa tokoh-tokoh pintar lainnya. Al-Khawarizmi (penemu aljabar), Ki Hajar Dewantara (bapak Pendidikan Indonesia), dan bahkan artis korea yang memiliki IQ tinggi.

Kembali ke duka

Jika tadi adalah duka saya tentang belajar di Labschool, nah sekarang duka orang orang dalam skala yang lebih besar.Banyak anak diluar sana yang tidak bisa sekolah dikarenakan banyak alasan.
- Mulai dari alasan biaya atau ekonomi,
- tidak dapat keadilan (untuk beberapa orang kecil dan miskin, bahkan perempuan yang dianggap remeh),
-tidak boleh sekolah (dikarenakan berbagai alasan seperti; harus membantu orang tua, mencari nafkah, menjadi tulang punggung keluarga, dan ada yang tidak diperbolehkan sekolah hanya karena berbagai alasan.

Apalagi sekarang ada virus corona. Ekonomi menjadi sulit, orang miskin didzolimi pemerintah, bansos dan sembako dikorupsi, gaji dipotong, masalah PPKM, dll. Banyak orang memikirkan diri sendirinya, bahkan keluarga dan tetangga yang miskin saja enggan untuk dibantu. Oleh karena itu marilah mendoakan dan memberi sumbangan ke rakyat di bawah kita.


Bismillah, semoga Allah memberikan jalan, rezeki, ketabahan, Kesehatan dan segala sesuatu yang dapat membantu. Aamiin… 




Komentar

Posting Komentar